𝐵𝑒𝓇𝓈𝒶𝓂𝒶𝓂𝓊 𝒦𝑒𝓁𝒶𝓃𝑔𝒾𝓉𝓅𝓊𝓃 𝐵𝒾𝓈𝒶

𝘒𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘸𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪, 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢.

Singgasana Bapak dan Ibuku

untukmu ibu, aku anakmu ingin berbakti kepada ibu mungkin selama ini ku salah melangkah terkadang melupakanmu,ku pikir ku bisa berbakti kepadamu dari tempat jauh ini,walaupun engaku ibu tak meminta sesuatu kepada aku anakmu ini,ternyat engaku ibu adalah bagian dari tauladanku dengan berpesan kepada aku anakmu ini,

Masih teringat pesen engkau ibu disaat aku terpuruk, keterpurukan ini adalah dari Allah mungkin akan menyadarkan aku akanmelupakan engaku ibu dan bapaku,

Trima kasih ibu aku minta rida aer susumu,

Teringat akan pesen ibu
  1. sudahlah inilah memang jalanya harus begini,setiap orang pasti punya garis sendiri sendiri.
    • suatu hari kepulanganku ke jawa ku sertai dengan aer mata untuk bapk dan ibuku, engkau ibuku berkata seperti itu,dan memang benar apa yang engkau katakan ibu, " inilah yang harus aku jalani", ini bukan ujian tetapi jalan, jalan untuk menjadi anak yang baek.
    .
  2. Selama ini ibu tidak pernah meminta,"kamu Pilih DIA, atau Tega Ama orang tuamu".
    • ada pemahaman yang sangat mendalam dari perkataan ibu,apalah artinya aku membantu orang laen rahman rahim kepada orang laen tetapi aku melupakan orang Tuaku.ibu dan Bapak tak pernah menuntut kepadaku tetapi sudah seharusnya aku berbakti kepda mereka,lebih lebih orang tua dalam keadaan tidak mampu.
Dengan rasa bangga ku ternyata juga mempunyai seorang Bapak yang selalu aku banggakan, Sepulanganku di jawa ku baru tau ternyata Bapak dan ibuku adalah wakil Tuhanku,Semua masalah hidupku ini serasa lebih ringan dengan adanya orang tuaku,teringat waktu kepeluk Bapak,ku menangis meminta Ampun.kenapa aku menangis aku juga tidak tahu ternyata batin orang tua teteplah untuk Anak, Ku meminta ampun karena belom bisa meninggikan Derajat Bapak dan ibu,ku pikir selama ini aku masih bisa berbakti dari jauh, ternyata tidak begitu ku harus melihat langsung keadaan Bapak dan ibu, Setelah bebarap hari bapak berpesan.
  1. seperti pewayangan "petruk kenopo toh kowe kuwi kok nangis wae,opo ora ono kerjaan saline nangis".
    • ini serasa sangat konyol memang dan sedikit lucu, tetapi itulah kenyataan,seolah olah Bapak berpesan dalm bahasa mantik,"lakukan tindakan nyata jangan hanya meratapi nasib.
  2. Janganlah terlalu dipikir yang ahirnya kamu sendiri larut dalam pikiran,Memang masalah selalu ada,

Sepintar pintar anak teteplah lebih pinter orang tua, sangat naif sekali kalau anak sampek melupakan orang tua.

Bersukurlah aku sebenarnya masih memiliki kedua orang tua yang masih menungguiki, walaupun terbilang sudah mandiri, orang tua tetaplah di tempat singgasananya,

Tidak salahlah menyayangi dan menyantuni anak anak yatim dan piatu lebih lebih yatim piatu,mereka menjalani hidup yang mungkin lebih parah dari aku,

Bapak dan Ibu,ku ingin menempatkan engkau berdua tetep di singgasana,

0 Comment for "Singgasana Bapak dan Ibuku"

Back To Top